Sejarah Desa

31 Januari 2017 19:18:39 WITA

Sejarah Desa Adat Tejakula

 

Desa adat Tejakula sebagai salah satu dari sekian banyak desa-desa adat di Bali, memilik perjalanan yang panjang dan unik, baik dilihat dari segi historis maupun geografisnya. Perjalanan panjang yang dimaksud dari segi historisnya disebut bahwa dalam prasasti Raja Janasadhu Warmadewa berangka tahun Icaka 897 atau tahun 975 masehi, dinyatakan desa tejakula sudah ada, dalam prasasti itu disebut dengan nama “Hiliran” kemudian lama kelamaan diubah menjadi “Paminggir”. Hal ini tercantum dalam prasasti Raja Jaya Pangus yang berangka tahun Icaka 1103 atau tahun 1181 masehi, dan hal yang sama disebutkan juga dalam prasasti Raja Eka Jaya Lancana tahun Icaka 1122. Menurut pemahaman dari para penglinsir kata hiliran dan kata paminggir memiliki arti sama yaitu berarti “tepi” atau “batas”.

 

Kemudian dalam perjalanannya para manggala desa kembali menetepkan kata paminggir menjadi “hiliran” yang lebih dikenal dengan kata “liran”, penetapan kembali nama pamiggir menjadi hiliran atau liran sejak tahun Icaka 1854 atau tahun 1932 masehi, pada waktu selesainya “sima” (awig-awig) desa tejakula ditulis oleh para manggala desa dalam bentuk lontar (cingak lontar gedung kertya, nomor.798 tetang sima desa tejakula) yang telah diterjemahkan tahun 1994 masehi, dalam sima desa tejakula juga disebutkan batas-batas disebelah timur dan barat liran seperti disebelah timur desa les dan sebelah barat desa buhundalem yang sekarang menjadi desa bondalem, julah, purwasidi, indra pura (depaa), dan lainnya. Terkait dengan kata paminggir, ada lagi dari manggala desa berpendapat bahwa kata paminggir berasal dari bahasa sansekerta yang sama dengan kata “Kula” dengan menggunakan “U” panjang (dirga) yang berarti “tepi” atau sisi, kemudian kata kula di depannya diisi kata “Teja” yang berarti “sinar atau cahaya”, kata teja yang berarti sinar, menurut cerita penglinsir (mitos) yang ada, bahwa dahulu pernah dilihat adanya Teja atau Cahaya yang sangat besar dari langit lalu cahaya yang besar itu jatuh di tepi atau batas sebelah timur desa liran, maka mulai saat itulah kata teja dilestarikan dengan menaruh di depan kata “kula” sehingga menjadi Tejakula (sinar yang jatuh di pinggir atau tepi ataupun batas), lama kelamaan kata kula oleh masyarakat diartikan dengan krama (warga), namun ada pula yang mengatakan bahwa kata tejakula berasal dari kata kulandih. Hal ini dikatakan bahwa ditengah hutan belantara ada sebuah pemukiman atau desa dimana desa itu bernama kulandih, didesa tersebut tiap malam memancar sinar sampai ke angkasa. Dengan adanya keajaiban seperti itu banyak orang dari luar daerah datang untuk mengetahui letak teja atau sinar yang memancar sampai k angkasa. Lama kelamaan berdatangan orang-orang ke desa kulandih, kemudian kata kulandih dianggap kuno disepakati utk diganti dengan nama Tejakula, karena kata kulandih dengan kata tejakula memiliki arti yang sama. Kedua cerita yang diterima dari kedua penglinsir memiliki arti dan makna yang sama dimana diwilayah tersebut memang betul-betul munculnya teja yang artinya sinar dan cahaya. Untuk mengenang peristiwa munculnya teja atau cahaya diwilayah kulandih sama-sama sepakat ditambahkan dengan kata kula yang berarti tepi atau pinggir kemudian mengalami perubahan arti, kata kula artinya warga atau krama. Kemudian menjadi tejakula yang berarti suatu wilayah yang sering memancarkan teja atau cahaya ke angkasa memberikan febrasi/haura yang positif kepada krama atau desa begitupula keadaan tanahnya juga sangat subur lingkungan alam yang asri hingga penduduknya dapat hidup penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman.

 

Kondisi sosial masyarakat dan lingkungan alam seperti ini, memberi ruang para pendatang untuk dapat dengan tenang berimajinasi dan kemudian mengespresikan kemampuan yang dibawa dari daerahnya masing-masing sehingga melahirkan berbagai bentuk karya seni sebagai wujud persembahan kepada yang maha kuasa, antara lain seni tari seperti : gambuh, parwa, sanghyang dedari, lahirnya wayang wong, berbagai jenis tari baris, seni kerawitan, seni ukir, seni patung, dan lain-lain, semuanya itu disakralkan artinya jenis kesenian tersebut baru dipentaskan hanya pada waktu kegiatan upacara atau wali. Karya-karya dari para leluhur yang sangat adhi luhung, hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu saja, maka generasi penerus untuk dapat dipentaskan diluar kegiatan upacara atau wali kemudian dibuat duplikat dengan membangun sekaa seperti wayang wong, yang pentas sampai ke mancanegara dan mendpat pengakuan dari UNESCO, semuanya ini dapat terpelihara dengan baik dan tumbuh subur sampai sekaranag, demikian sekilas tentang Desa Tejakula.

 

Prajuru desa adat tejakula menggunakan sistim keturunan artinya semua prajuru seperti Jro Bendesa, Jro Bau, Jro Penyarikan, Pemangku Kahyangan Desa, anggota dari Desa Negak, Klian Smpingan Kaler dan juga Kelian Sampingan Kelod berlangsung secara turun temurun. Secara kelembagaan hubungan desa adat tejakula dengan desa pakraman sukawana sangat erat, keterkaitan desa sukawana dengan desa tejakula secara kelembagaan hal ini dapat dilihat dari berdirinya sebuah bangunan suci yang bernama Pura Utus sebagai tempat bersejarah. Mengingat lokasi itu dipakai sebagai tempat para prajuru desa setimaan (45) desa sukawana mengadakan paruman dengan maksud untuk membahas keadaan wilayah bagian utara desa sukawana yaitu wilayah paminggir atau hiliran (desa tejakula sekarang). Dimana darah tersebut keadaan tanahnya sangat subur dan pesisir pantai sangat ramai sebagai tempat kegiatan perdagangan hal ini dapat dilihat dari keberadaan Pura Sekar, yang lokasinya di dekat pantai salah satu pura dangka yang ada diwilayah desa adat tejakula, dimana di pura sekar ada palinggih sebagai tempat pemujaan untuk dua agama selain Hindu yaitu Budha dan Islam. Oleh karenanya daerah ini menjadi rebutan dari orang-orang atau kelompok lain sehingga keamanan daerah hiliran sangat terganggu, melihat situasi seperti itu maka demi untuk menjaga keutuhan dan segalam keberadaaanya, prajuru desa sukawana yang jumlahnya setimaan (45) orang mengambil keputusan antara lain :

  1. Prajuru desa sukawana yang jumlahnya 45 membagi diri dalam menata wilayahnya yaitu : 23 orang daerah sukawana bagian selatan dan 22 orang menata wilayah bagian utara (peminggir atau hiliran). Prajuru yang beragkat ke desa tejakula yang berjumlah 22 orang didampingi (dikawal) oleh prajurit yang disebut dengan cendek yang pakaiannya memiliki kekhususan tersendiri.
  2. Segala biaya dalam rangkaian pembangunan, aci atau upacara yang lainnya menjadi tanggung jawab bersama, kerama desa tejakula dan sukawana.
  3. Ditempat itu dibangun palinggih utama juga dibangun 2 buah bale panjang berfungsi sebagai tempat sangkepan prajuru desa sukawana dan tejakula.
  4. Dalam perbaikan alat-alat seperti tombak, pengawin, dan segala sarana yang terbuat dari logam apabila mengalami kerusakan dikerjakan oleh kerama desa tejakula.
  5. Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut dibangunlah sebuah bangunan suci sebagai ungkapan rasa puja dan puji syukur kepada Ida Bhatara atas keputusan yang dapat diambil maka bangunan suci itu diberi nama “Pura Utus”.

 

Bukti lain keterkaitan secara ritual antara desa tejakula dengan desa pakraman sukawana dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah seperti adanya bangunan suci yang berupa palinggih atau bangunan suci yang berupa Bangunan Cang Apit di pura desa sukawana dimana bangunan ini merupakan bangunan inti sebagai tempat medal dan ngeranjing Ida Bhatara pada waktu pelaksanaan piodalan di Pura Desa Sukawana. Dan juga dibelakang bangunan cang apit tertulis “Pangeling-ngeling kerama desa indik prabeya ritatkala mewangun palinggih cang apit,” mungguhin prabea utawi ongkos tukang kesanggra oleh desa pakraman tejakula, indik bahan wangunan kesanggra oleh desa pakraman sukawana.

 

Sedangkan hubungan antara keberadaan desa adat tejakula dengan desa adat batur dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah seperti adanya bangunan suci yang berupa palinggih meru tumpang telu di pura ulundanu batur dan dipertegas kembali dalam purana-purana yang ada dibatur hubungan dalam pelestarian sumber air, sebagai sumber hidup desa pakraman tejakula, utamanya dalam pemanfaatan untuk irigasi maupun kebutuhan sehari-hari.

 

Berdasarkan isi pangeling-ngeling pepasehan Ida Bhatara sakti di pura ulundanu batur disebutkan bahwa ida bhatara ring pura ulundanu batur, untuk melimpahkan anugerah atau pica kepada panjank-panjak beliau yang berada dibagian timur kabupaten buleleng dalam bentuk Tirta Air Suci sebagai sumber kesuburan dan kehidupan para kerama desa. Namun sebelum beliau melimphkan anugrahnya terlebih dahulu beliau melihat ketulusan rasa bakti dari krama desa (panjak-panjak beliau). Atas dasar itu, maka Ida Bhatara menjelma menjadi perempuan tua renta dengan kondisi fisik yang sangat menjijikan dan beliau mejunjung sebuah kendi berisi air kemudian beliau menjajakan airnya. Adapun kisah perjalanan beliau adalah sebagai berikut : diawali dari daerah Kanca Satak (wilayah ujung timur kecamatan tejakula, disekitar pura pegonjongan si penjaja air terpeleset, sehingga air yang dijunjungnya sedikit tertumpah. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat sampai ke desa les. Masyarakat desa les membeli air seharga 2 kepeng, dan dilanjutkan ke barat menuju hiliran (desa tejakula sekarang). Masyarakat hiliran membeli air seharga 3 keteng. Sang penjaja air melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah barat dan terakhir air tersebut di tuangkan di wilayah air sanih.

 

Dari kisah ini tampak jelas hubungan secara ritual dengan desa batur dan sukawana sehubungan dengan kelangsungan kelestarian air di desa pakraman tejakula, sebagai anugerah yang dilimpahkan oleh Ida Bhatara ring Ulundanu Batur dan Ida Bhatara Sukawana dalam wujud Tirta (Air Suci), sehingga menjadi kewajiban krama desa tejakula untuk membayar utpeti dalam bentuk aci atau upacara. Kewajiban itu telah dilaksanakan secara terus menerus baik yang pelaksanaan setiap tahun sekali atau sepuluh tahun sekali.

 

Kerama desa tejakula dalam melaksanakan kewajibannya seperti menghaturkan aci dan kewajiban lainnya seperti diuraikan diatas, semuanya itu merupakan bentuk kewajiban membayar utpeti atau aci sebagai rasa bakti kehadapan Ida Bhatara Bhatari dalam upaya memohon selain untuk keselamatan juga untuk memelihara kelangsungan keberadaan tetap berfungsinya sumber air yang mengalir ke desa tejakula sebagai sumber kehidupan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan beberapa hal :

  1. Kerama desa tejakula menghaturkan upacara atau aci setiap tahun maupun sepuluh tahun sekali, secara terus menerus dan juga mrembiayai perbaikan-perbaikan bangunan suci yang menjadi tanggung jawabnya baik yang ada di pura ulundanu batur maupun yang ada di sukawana.
  2. Kerama desa tejakula meyakini bahwa kelangsungan mengalirnya sumber air yang menuju desa tejakula tidaklah semata-mata karena terpeliharanya hutan namun tidak bisa lepas dari ketaatan kerama desa untuk melaksanakan kewajibannya baik secara sekala maupun niskala.

Dengan mengacu pada sejarah perkembangannya, sesuai dengan apa yang diuraikan diatas, pengaruh para raja selaku penguasa wilayah pada jamannya memiliki peran yang sangat penting tentang sejarah perjalanan desa tejakula, begitu juga dengan adanya bukti-bukti sejarah tentang hubungan desa tejakula dengan desa-desa seperti desa batur dan desa sukawana di kecamatan kintamani, dalam struktur kelembagaan prajuru di desa adat tejakula yang berlangsung dengan sistim keturunan, begitu pula dengan adanya berbagai dokumen baik dalam bentuk prasasti, purana maupun bukti-bukti fisik berupa peninggalan-peninggalan lainnya yang terbentuk palinggih seperti yang ada di pura ulundanu batur berupa meru tumpang 3, dan juga berdirinya Pura Utus dan bangunan cang apit di desa sukawana, begitu pula kondisi riil dari para kerama desa tejakula yang terdiri dari berbagai treh atau warga dadia dengan menyatukan diri dala satu kesatuan dengan tidak membedakan warna dan assal-usul dengan istilah asah basa, hal ini dipertegas dengan adanya bangunan pura atau tempat suci yang bernama pura merajan desa dengan palinggih meru tumpang tiga sebagai tempat penyungsungan krama desa tejakula, yang artinya sebagai sebuah pengakuan bersama, bahwa semua kerama desa memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun desa tejakula. Terlebih dengan adanya semboyan “Binakula Tunggal Kapti” artinya kerama desa tejakula terdiri dari berbagai jenis warga atau dadia namun satu tujuan, hal ini memberikan gambaran bahwa sejarah perjalanan desa tejakula prosesnya sangatlah panjang sehingga tidak dapat lepas dari adanya perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan situasi kondisi yang ada disamping itu keterlibatan banyak pihak seperti peran para raja selaku penguasa seperti yang telah disebutkan dalam beberapa prasasti, begitu juga hubungan desa batur dengan desa sukawana terkait dengan struktur kelembagaannya desa tejakula dan juga peran para penglinsir selaku tokoh-tokoh di desa semuanya ini dapat memberi pengaruh dalam pertumbuhan dan pekermabangannya. Sehubungan dengan hal tersebut desa adat tejakula tidaklah dibangun hanya oleh sekelompok atau beberapa kelompok dari para tokoh, namun desa tejakula dibangun bersama-sama dari para penglinsir, para tokoh kerama dadia, atas kemauan yang sama dalam mewujudkan tujuannya yaitu kerahayuan bersama maka dibangunlah sebuah desa dengan nama desa adat Tejakula.

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Lokasi Tejakula

tampilkan dalam peta lebih besar